Legenda Anak Hijau Di Woolpit Inggris

Legenda Anak Hijau Di Woolpit Inggris

Ini adalah legenda mengenai The Green Children of Woolpit atau anak-anak hijau dari Woolpit. Sahabat anehdidunia.com Inggris memiliki banyak kisah dan legenda. Kadang susah diterima oleh akal sehat. Misalnya yang satu ini. Kebenarannya diragukan sebagian orang. Tapi sebagian lain mempercayainya sebagai sebuah kesaksian sejarah. Walaupun cerita ini lebih mirip kisah dalam salah satu karya HC Andersen atau JRR Tolkien, namun hingga kini, kisah ini masih banyak dipelajari oleh berbagai kalangan, baik sejarawan, ahli kisah rakyat hingga Cryptozoologyst.



Legenda ini terjadi di abad ke-12, saat masa pemerintahan raja Stephen (1135 - 1154 Masehi) dan terjadi di sebuah desa kecil di Suffolk yang bernama Woolpit. Nama "Woolpit" mungkin berasal dari Wolfpitt yang berarti lubang atau parit besar yang digunakan untuk menjebak serigala yang ada di desa itu.

Legenda Green Children Of Woolpit

Suatu hari, para penduduk desa menyaksikan dengan takjub ketika dua orang anak kecil merangkak keluar dari parit itu. Seorang anak perempuan dan seorang anak laki-laki yang lebih muda. Mereka berdua menggunakan pakaian yang aneh dan berbicara dalam bahasa yang tidak dimengerti oleh penduduk desa. Namun, yang mem buat para penduduk desa keheranan adalah kulit mereka - seluruhnya berwarna hijau!

Karena tidak bisa berkomunikasi dengan mereka, para penduduk kemudian membawa kedua anak yang terlihat sedih dan menangis itu ke rumah Sir Richard de Calne, seorang tuan tanah lokal. Di rumah itu, mereka tinggal dan diperlakukan dengan baik oleh Sir Richard dan para pelayannya.

Namun, tidak berapa lama kemudian, anak laki-laki itu jatuh sakit dan kurang dari setahun, ia meninggal. Untungnya, anak yang perempuan berhasil bertahan hidup. Sejalan dengan perkembangan usianya yang semakin dewasa, warna hijau pada tubuhnya perlahan menghilang dan berubah menjadi normal. Ia diberi nama Agnes. Kemudian, Agnes menikah dengan seorang bangsawan dari Norfolk dan menggunakan nama Agnes Barre.

Karena nama ini pula, banyak yang percaya bahwa pemegang gelar Earl Ferrers (gelar bangsawan Inggris) yang sekarang adalah keturunan langsung dari Agnes (Salah satu leluhur dari Earl F errers bernama Sir John Barre).



Selama di rumah Sir Richard, Agnes belajar bahasa Inggris. Ketika ia sudah lancar berkomunikasi, ia mulai menceritakan bagaimana ia dan adik laki-lakinya bisa sampai ke Woolpit. Ia mengatakan bahwa mereka berasal dari sebuah tempat yang bernama St.Martin yang hanya memiliki sedikit cahaya matahari dan para penduduknya semua berkulit hijau. Sebuah sungai besar memisahkan desa mereka dengan desa lain yang selalu terang benderang.

Suatu hari, ketika mereka berdua sedang membantu ayah mereka menjaga ternak, Agnes dan adiknya mendengar suara lonceng di dalam gua, mereka mengikutinya menuju ke dalam gua sampai menemukan lubang di permukaan tanah (parit) yang sampai ke Woolpit. Saat itulah kedua anak itu terlihat oleh para penduduk desa yang ada di ladang.

Kisah anak-anak hijau ini pertama kali diceritakan oleh penulis abad ke-13 bernama William of Newbridge dan Ralph of Cogestal. William (1136-1198), seorang sejarawan Inggris, menceritakan kisah ini dalam karyanya berjudul "Historia rerum Anglicarum" atau "History of English Affairs" yang menceritakan sejarah Inggris dari tahun 1066 hingga tahun 1198.

Sedangkan Ralph (meninggal tahun 1228) menceritakan kisah ini dalam karyanya "Chronicon Anglicanum" atau "English Chronicle" yang menceritakan sejarah Inggris antara tahun 1187 hingga 1224. Ralph juga mengaku bahwa ia sering mendengar mengenai anak-anak hijau ini dari Sir Richard de Calne sendiri.

Selain kedua sumber utama di atas, kisah misterius ini juga bisa ditemukan sebagai referensi dalam buku-buku abad pertengahan lainnya seperti "The anatomy of Melancholy" yang ditulis oleh Robert Burton pada tahun 1621 dan "The Fairy Mythology" yang ditulis oleh Thomas Keightley pada tahun 1828.

Kisah ini juga beredar dengan beberapa versi yang sedikit berbeda. Ada yang mengatakan kalau sesungguhnya anak-anak hijau ditemukan pada masa pemerintahan raja Henry II, bukan Raja Stephen.

Bagi sebagian orang, kisah ini hanyalah sebuah mitos. Seorang ahli cerita rakyat Inggris bernama Dr.Katharine Briggs menulis dalam "A Dictionary of Fairies" yang terbit tahun 1976 bahwa kisah ini mengandung banyak unsur legenda dan mitos, seperti warna hijau, tanah yang selalu gelap dan dunia bawah tanah. Ia menganggap cerita ini penu h dengan aspek mitologi dan dongeng.

Namun bagi yang lain, kisah ini mungkin benar-benar terjadi. Karena itu beberapa penjelasan berusaha diberikan. Teori yang paling ekstrem mengatakan kalau kedua anak ini datang dari dunia lain di dalam bumi yang dengan suatu cara menemukan pintu dimensi lain yang telah membawa mereka ke Woolpit.

Teori lain mengatakan bahwa mereka adalah anak-anak alien yang secara tidak sengaja mendarat di bumi. Salah satu pendukung teori alien ini adalah astronom Skotlandia bernama Duncan Lunan. Pada konferensi yang diselenggarakan oleh majalah Fortean Times, ia mengatakan bahwa kedua anak itu adalah alien yang dikirim ke bumi dari planet lain. Teori ini terdengar seperti kisah Clark Kent.

Namun, para penduduk Lokal Suffolk punya teori sendiri. Mereka percaya bahwa legenda ini berasal dari kisah nyata yang terjadi di Waylan Wood. Menurut legenda, ada seorang pria yang menjadi wali dua anak kecil, seorang anak perempuan da n seorang anak laki-laki.

Pria ini adalah paman kedua anak itu. Untuk menguasai harta warisan kedua anak itu, sang paman meracuni kedua anak ini dengan arsenik dan membuangnya ke hutan. Kedua anak ini tidak mati, namun karena efek arsenik, kulit mereka berubah menjadi hijau hingga mereka berhasil sampai ke Woolpit. Teori ini cukup rasional, walaupun tidak diketahui apakah arsenik bisa mengubah warna kulit menjadi hijau.

Teori Terbaru Anak-Anak Hijau Ini Diajukan Tahun 1998 Oleh Paul Harris.



Menurutnya, sebelum masa pemerintahan Henry II, Inggris timur banyak dimasuki oleh para pedagang Flemish (Belgia - Belanda). Ketika Henry II menjadi raja, para pedagang ini mengalami banyak penganiayaan dan pada perang St.Edmund tahun 1173, banyak diantara mereka yang dibantai.

Harris mengatakan bahwa kedua anak itu kemungkinan adalah keturunan para pedagang yang berasal dari desa dekat Fornham St.Martin yang berada hanya beberapa mil dari Woolpit dan dipisahkan oleh sungai Lark.

Kedua anak tersebut mungkin berhasil melarikan diri dari pembantaian menuju hutan Thetford. Hutan itu hanya sedikit menerima cahaya matahari sehingga membuat mereka mengira bahwa mereka berada di daratan yang gelap. Jika kedua anak itu melarikan diri dalam waktu yang cukup lama, mereka akan mengalami penyakit kekurangan gizi yang disebut Chlorosis (Green Sickness) yang membuat kulit menjadi hijau.

Harris juga percaya kalau suara lonceng yang mereka dengar adalah suara lonceng gereja di dekat St.Edmund yang kemudian menyebabkan mereka sampai ke Woolpit. Ketika mereka sampai ke Woolpit, mereka menjadi disorientasi karena lama tidak melihat cahaya. Pakaian mereka yang berasal dari pedagang Flemish dan bahasa yang berdialek Flemish tentu saja akan membuat penduduk desa keheranan.

Teori Harris sepertinya cukup masuk akal dan bisa menjelaskan banyak teka-teki yang meliputi kisah ini. Karena itu teori ini dianggap sebagai teori terbaik mengenai anak-anak hijau dari Woolpit. Namun, soal benar tidaknya teori ini, tentu saja tidak ada yang bisa memastikan.

Apakah anak-anak hijau tersebut benar-benar ada ? Mungkin kita tidak akan pernah tahu. Bisa saja, legenda ini hanya sebuah imajinasi dari penulis abad pertengahan yang ditulis dengan gaya alegori. Atau, mungkinkah kisah ini benar-benar terjadi, namun diceritakan dengan dramatisasi ? Jika teori Harris memang ben ar, agak mengherankan memang. Mengapa kedua anak itu tidak berkata saja : 'Orang tua kami dibantai, kami melarikan diri dan tersesat di hutan'. Mengapa harus ada cerita mengenai daratan gelap, Penduduk St.Martin yang semuanya berkulit hijau, masuk ke gua misterius dan sampai ke Woolpit ? Menurut saya, kisah ini akan tetap menjadi salah satu dari sekian banyak kisah yang tidak terpecahkan.

Sahabat anehdidunia.com Green sickness adalah salah satu jenis anemia yang memang bisa menyebabkan warna kulit berubah menjadi hijau. Gejalanya termasuk, kekurangan tenaga, nafas pendek, sakit kepala dan memiliki selera untuk memakan sesuatu yang bukan makanan, seperti garam dan abu. Selain Green sickness, dalam dunia kedokteran, ada juga yang disebut sebagai Argyria, yaitu sebuah kondisi dimana warna kulit akan berubah menjadi biru, ungu atau abu-abu karena tubuh ter kontaminasi oleh elemen perak. Efek perubahan warna kulit ini biasanya terjadi secara permanen. Tapi pengobatan dengan teknologi laser konon dapat memberikan hasil yang cukup baik.

referensi:
http://xfile-enigma.blogspot.com/2010/03/misteri-anak-anak-hijau-dari-woolpit.html

Naga Hanya Legenda Atau Nyata

Naga Hanya Legenda Atau Nyata

Penampakan ular naga, Mungkin itulah pokok pembicaraan yang hangat jika kita mendengar istilah naga dalam pembicaraan sehari hari. Naga bisa dikatakan adalah kakek buyut dari berbagai monster yang ada di dunia yang banyak di gambarkan atau dilukiskan di berbagai dinding goa selama 25.000 tahun dan selama 8000 tahun di Cina. Sahabat anehdidunia.com pada zaman suku Aztec dan Celtic pencitraan naga sangatlah ditakuti karena kepercayaan akan naga yang mempunyai cakar dan mengeluarkan api dari mulutnya. Apakah naga itu nyata atau hanya sekedar legenda?



fosil naga yang diyakini berita hoax

Naga merupakan salah satu unsur terpenting dalam kehidupan bangsa China. Hal ini dapat dilihat dari budaya China yang hampir semuanya berhubungan dengan hewan legenda ini. Sebaliknya, para peneliti telah lama meyakini bahwa naga hanyalah merupakan mahkluk khayalan semata yang hanya hadir dalam legenda-legenda klasik.

Namun sebuah penemuan pada tahun 1996 seolah menjawab keragu-raguan para ahli. Para arkeolog di China berhasil menemukan fosil naga ini di Desa Guanling, Kota Anshun, China. Penemuan ini membuktikan bahwa hewan yang dikeramatkan ini a pernah ada.

Dalam bingkai ilmu pengetahuan, naga merupakan reptil yang hidup di samudra pada masa Triasik sekitar 200 juta tahun yang lalu. Naga merupakan makhluk amfibi, ia banyak menghabiskan waktunya di air dan terkadang berjalan ke daratan. Naga merupakan legenda yang tidak bisa dipisahkan dengan kehidupan masyarakat China. Hewan dari masa lalu ini, sering hadir dalam kisah-kisah masa lalu China dan dianggap sebagai makhluk yang istimewa. Orang Mandarin juga meyakini bahwa mereka adalah titisan dari naga.

Hal inilah yang membuat penemuan pada tahun 1996 ini di sambut baik masyarakat. Fosil naga yang ditemukan di Desa Guanling itu dilengkapi dengan sepasang tanduk di atas kepalanya. Wujud dari naga ini menyerupai hewan legenda yang sering terdapat dala m legenda. Fosil ini dalam kondisi baik dengan Panjangnya keseluruhan mencapai 7,6 m, kepalanya 76 cm dan lehernya 54 cm. Tubuhnya memiliki panjang 2,7 m serta lebar 68 cm, dan buntutnya 3,7 m.

Kepala naga ini berbentuk segitiga, dengan lebar mulut 43 cm. Bagian terlebar di kepala naga ini mencapai 32 cm, kedua tanduknya, dengan bentuknya yang simetris menjulang dari bagian terlebar tersebut dan berukuran 27 cm. Tanduknya berbentuk agak sedikit melengkung serta condong ke samping, sehingga semakin membuat fosil tersebut menjadi seperti naga dalam legenda. Fosil itu pada akhirnya dipamerkan pada tahun 2007 di Xinwei Ancient Life Fossils Museum di Anshun, Guizhou, China.

Tak pelak lagi, penemuan ini benar-benar mengegerkan masyarakat. Karena ini adalah pertama kalinya bagi China untuk menemukan sebuah fosil “naga” yang dilengkapi sepasang tanduk. Penemuan ini menyajikan bukti tentang kemungkinan naga memiliki tanduk. Penemuan fosil ini memberi informa si ilmiah yang penting bagi manusia untuk melacak asal-usul legenda naga di China.

Penemuan di Yunnan dan Sungai Liachoe

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi2wTUL4yPaa4yLgHFLzqQ6sUmWuHyDTj-DWJ3Fcr-eDofMmlnlaF__L7Ge516a1nD2PkPkGn3BKK4xR4C-RhXvBmxnoO0m1f1aba6WXsjGFUpqTzxvDRd231TlPIAW_R9w9FAjFkf0HUo/s1600/510265t.jpg

Penemuan lainnya terjadi di Provinsi di dekat sebuah desa di Fuyuan, China baratdaya pada tanggal 22 Januari 2007. Penduduk setempat menemukan fosil naga berukuran kecil yang telah melekat pada lempengan batu di dalam sebuah gua di atas sebuah bukit.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEho6XyQ3VTCuvrkzQfmpeU5qEk2un3c_hw_vBC4yO6lczm0ntgEV8QrMzJB9C3PNSEV4UtnhPxjgKLwDf6L8Ybb28lL4j97Kk_TKUXoh4FV9K3ddZr1kqWWvdVmPlrESu2XKg9hqFB4jwQ/s1600/australia-museum-victoria-chinese-reptile-fossil.jpg

Para petani di desa itu telah melakukan penggalian fosil sejak tahun 2000 untuk mencari “sisa-sisa” dari legenda naga karena terinspirasi oleh penemuan naga yang dipamerkan di Guizhou. Para petani melakukan itu untuk menambah penghasilan dengan menjual fosil tersebut kepada para peneliti.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgIefujTj8ZGt4NlRMVyssr_duLSft6p6m0M3QC8TOsBYLbgS0rKKDbEzfpFTmVnMxSjUT-jjTQeEetl66xvvH1zeuP87BVXybzir09Qb5xl5sxOdyepOeM6BZVsofGaUAFagP4vGKezLY/s1600/pterodragon.jpg

Sebelumnya, untuk membuktikan keberadaan naga itu, para arkeolog China melakukan eksk avasi sejak tahun 1983 di beberapa lokasi yang diyakini pernah ditinggali oleh peradaban China kuno. Ekskavasi pertama dilakukan di sekitar Desa Niuheliang, di kaki Gunung Merah (Red Mountain). Tepatnya, berada di lokasi lembah Sungai Liachoe. Dari beberapa temuan membuktikan, bahwa di daerah ini pernah ditinggali sebuah peradaban kuno yang cukup maju ribuan tahun silam.

Pada penggalian pertama, para arkeolog menemukan dua potongan batu giok berbentuk seekor naga. Giok naga ini diukir secara halus, berwarna hijau transparan. Penemuan pertama ini, menurut para arkeolog sangat berharga. Dari bukti itu terlihat peradaban ribuan tahun silam memang sudah mengenal budaya ukiran yang sangat halus dan tak kalah indah dengan hasil pahatan zaman sekarang

Penggalian hingga tahun 2003 itu melibatkan puluhan arkeolog dari Research Institute of Lioning Province, dan telah menyelesaikan pekerjaan pada 16 situs. Mereka mengaduk-aduk situs pada areal 1.576 meter persegi . Menggali enam kuburan kuno yang diduga adalah kuburan para pimpinan masa itu.

Dari hasil penggalian itu, ditemukan 479 potong bukti-bukti yang mengarah tentang keberadaan ular naga, dalam bentuk fosil rahang dan bagian tubuh lainnya yang diduga merupakan bagian tubuh dari seekor ular besar. Termasuk tiga potong patung naga yang terbuat dari batu giok halus, yang ditemukan dari kuburan kuno. Konon temuan giok patung naga itu, hampir sama dengan temuan hasil ekskavasi di Desa Sanxingtala pada tahun 1970. Desa ini masuk dalam wilayah Kota Cipeng di Monggolia Dalam.

Profesor So Bingqi, seorang arkeolog terkenal di China dan merupakan Ketua Asosiasi Arkeolog Cina mengungkapkan, temuan terbaru itu masih harus diteliti lebih jauh. Terutama dengan uji karbon, untuk menentukan umur binatang purba itu dan merekonstruksi seluruh bentuk fisiknya.

Penggalian dilakukan le bih dalam lagi, untuk mencari bagian fosil lainnya yang bisa membuktikan, apakah fosil itu merupakan binatang melata biasa atau memang seekornaga yang diduga hidup lebih muda beberapa ribu tahun dari zaman binatang purba Dinosaurus, T-Rex, Brontosaurus dan binatang-binatang purba lainnya.
Namun dari ukuran tubuh, yang bentuknya lebih kecil dibandingkan dengan sejenis dinosaurus, diduga kuat temuan itu memang adalah sejenis ular pemangsa. Karena terlihat dari taringnya yang sangat tajam yang mengarah ke dalam, seperti halnya pada binatang pemangsa lainnya yang ditemukan lebih dahulu seperti T-Rex.

Nenek Moyang Ular
Penelitian di sekitar lembah Sungai Liachoe terus dilanjutkan para arkeolog, untuk menentukan apakah temuan ini hanya satu-satunya bukti atau masih ada yang lain. Ternyata dugaan dari para arkeolog itu tidak sia-sia, penggalian di “Red Mountain Goddes”, ternyata ditemukan bukti lainnya yang saling mendukung. Temuan serupa di lokasi i ni, menemukan beberapa bukti lain yang menguatkan keberadaan naga itu.

Baik arkeolog Bingqi maupun Daahun, anggota Tim Kerja pencari bukti keberadaannaga itu menyimpulkan, ular yang selama ini dimitoskan itu memang ada. Hanya apakah bentuknya memang sempurna, seperti nagayang digambarkan dalam bentuk patung seperti di biara atau hanya ular purba biasa? Semua itu masih dalam tanda tanya. Para arkeolog masih mencari bukti-bukti lain, dan merekonstruksinya secara sempurna.

Untuk sementara, mereka berhasil merekonstruksi temuan fosil itu adalah sejenis binatang ular purba. Hal ini terlihat jelas, dari kerangka kepala yang mengarah pada sebuah kerangka ular. Namun masih belum sempurna, karena beberapa bagian lain yang diduga berupa tulang rawan bentuknya masih samar-samar. Tapi semua arkeolog meyakini, fosil itu adalah fosil naga, nenek moyang ular-ular sekarang.

Mengenai keraguan bentuk naga sebenarnya, untuk sementara mereka sepakat gambaran pat ung-patung naga yang dibuat sejak ribuan tahun lalu, diduga kuat itu mewakili bentuk ular naga sebenarnya meski bukti-bukti pendukungnya masih dideteksi.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjgssnpjc_-T1XiAma62hcMiWkhAKXYl_MVTSkCLueBwm8usxS3GsSxS3160srMvraEH8BFhicUosbPKwePYp2g-x8Vn9G3373ZtODHMM-dZJ2wPZXJEL8OP6M6wuJju1ErOzpoJKKJhfI/s1600/dragon_rider.jpg

Mereka juga setuju bahwa gambaran yang ditemukan dalam bentuk patung giok naga(patung dari hancuran emas dan perungu, diperkirakan berumur 8.000 tahun lebih) merupakan gambaran bentuk asli dari naga yang kini tinggal fosilnya.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEihE893C3Sy6fBkfdwrSkle5gum1IWqchlWEOSpE9X2d-EUEu-WGGqvuifQhSz4eeCJ-xCNnoJPZXfnOFBBxHGZbeMK0H8TtueFegV7CqN5ZtJe43o9HlbXIZmb2Zdt1wvo899jU0y5n_A/s1600/20070113_183814.jpg

Pada akhirnya bukti-bukti bahwa naga pernah ada, layak didukung dengan harapan hendaknya hewan ini wakil dari wujud kebaikan. Sebab bukan tidak mungkin, pemujaan Bangsa China maupun bangsa lainnya dikarenakan suatu hal baik yang pernah dilakukan oleh naga atau “ hewan sejenis ular besar” kepada manusia di masa-masa lampau.

Bangsa dan Negara yang Memiliki Kisah Naga :
  • China : disebut Long, berbentuk ular dengan empat kaki yang berkuku
  • Vietnam : disebut Rong
  • Jepang : disebut Ryu, memiliki tiga kuku tajam
  • Korea : disebut Yong ( naga langit) , Yo (naga laut) dan Kyo (naga gunung)
  • Siberian : disebut Yilbegan â€" India : dikenali Vyalee dan banyak diukir di kuil Selatan India.
  • Germanic/Scandinavian : disebut Lindworm, berbentuk ular besar yang berkaki dua.
  • Wales : disebutY Ddraig Goch, naga merah yang tertera pada bend era negeri itu.
  • Hungarian : disebut Zomok, berbentuk ular yang tinggal dalam paya dan seringmemangsa khinzir atau biri-biri. Sárkánykígyó, berbentuk ular berkepak. Sárkány, naga berbentuk manusia yang memiliki banyak kepala.
  • Slavic : disebut Zmey, Zmiy dan Zmaj , menyerupai naga Eropa tetapi memiliki banyak kepala, dapat menyemburkan api.
  • Romanian : disebut Balaur, memiliki sirip, berukuran besar dan berkepala banyak. Chuvash: disebut Vere Celen, Amerika- Meso-amerika: disebutAmphitere,Inca: disebut Amaru, Brasil: dikenali sebagai Boi-tata.

Masih banyak lagi hal yang menuju pembuktian bahwa keberadaan Naga itu benar adanya namun tak satupun dari semua hal tersebut memberikan kepuasan dalam menjawab Legenda naga ini. Mungkin Naga akan tetap menjadi misteri sampai ujung jaman. Bagaimana dengan anda sahabat anehdidunia.com apak ah anda menyetujuinya?

referensi:
http://aksesdunia.com/2011/temuan-fosil-semakin-menguatkan-bahwa-naga-benar-benar-ada/
http://cryptozoology.blogspot.com/2011/04/mencari-kebenaran-adanya-naga.html

Legenda Pahlawan Yunani Achilles



Legenda Pahlawan Yunani Achilles - Achilles dipercaya banyak orang sebagai setengah dewa. Ini dikarenakan ibunya adalah Thetis salah satu dari 50 Nereid (Anak dari Nereus dan Doris). Saat Achilles lahir, Thetis berusaha untuk menghilangkan sifat ketidakabadian Achilles yang didapat dari ayahnya Peleus (manusia). Caranya dengan mencelupkan Achilles di sungai Styx, meletakan Achilles dalam api dimalam hari dan memberi makan makanan dewa pada siang hari. Tetapi ini dilakukannya tanpa sepengetahuan Peleus. Ketika Peleus mengetahuinya, ia menangis. Melihat itu Thetis akhirnya mengurungkan niatnya dan pergi kembali ke tempat Nereid meninggalkan suami dan anaknya. Tapi, ia tetap mengawasi anaknya yang dikasihinya itu.

Ketika Achilles berusia 9 tahun, Calchas (ahli peramal) mengatakan bahwa Troy tidak dapat direbut tanpa Achilles. Inilah alasan mengapa Achilles ingin pergi ke Troy. Ketika sang ibu mengetahui rencana Achilles yang ingin Troy, maka sangat khawatirlah ia. Ia mengetahui bahwa Paris putra dari raja Priam (raja Troy) akan menyebabkan perang Trojan yang akan berujung dengan kematian Achilles. Sejak saat itu ia mencari celah untuk menghindar dari takdir. Ia bahkan sempat meminta Poseidon untuk menenggelamkan kapal-kapal Trojan yang menuju ke Sparta. Namun, bahkan dewa sendiripun tidak sanggup mengubah takdir.

Adalah Chiron, Centaur yang lain dari centaur yang biasanya arogan dan kejam. Ia adalah Centaur yang bijak, mengutamakan perdamaian daripada peperangan dan menghabiskan masa-masanya dengan mengajar. Bahkna buat Chiron sendiri, mendidik Achilles merupakan tugas yang sulit. Achilles selalu berbuat ulah dengan melawan perintah gurunya, mencuri ternak dan sering menggangu Centaur yang lain serta menyebabkan kekacauan di beberapa daerah. Inilah yang membuat Chiron meminta Thetis untuk mengambil kembali Achilles. Padahal Thetis seperti yang kita ketahui sudah sangat takut dengan takdir yang ditetapkan pada Achilles.



Tak hanya itu usaha sang ibu, Thetis, ia bahkan membuat Achilles berpenampilan seperti wanita untuk mengelabui takdir. Achilles (yang menyamar sebagai wanita) diperkenalkan kepada raja Lycomedes dari Scyros sebagai kakaknya Achellis. Pertama Achilles menolak, tapi karena inilah cara agar ia dapat lebih dekat dengan Deidamia, putri raja. Namun ada sumber yang mengatakan bahwa kedatangan Achilles di Scyros bukan untuk mengelabui kematiannya, akan tetapi karena ia memang ingin menaklukan kota ini. Akhirnya penyamaran Achilles ini terbongkar oleh Odysseus dengan terompet. Odysseus mengetahuinya karena menurutnya seorang wanita tidak seharusnya bereaksi terhadap suara terompet seperti reaksi lelaki.

Dari Scyros, Achellis berlayar ke Aulis yang terletak berlawanan dari pulau Euboea. Pulau Euboea sendiri merupakan tempat armada kuat Achaean berkumpul sebelum berlayar melawan Troy. Akan tetapi, dikeranakan cuaca yang buruk, armadanya tidak dapat keluar dari Aulis. Kemudian menurut peramal Calchas, hanya pengorbanan manusia yang dapat membuat cuaca berubah baik. Oleh karena itu Calchas mengusulkan pada raja Agamammon untuk mengorbankan anaknya, Iphigania untuk mati. Namun, sang raja kemudian menulis surat pada Iphigania agar meninggalkan Myrenae ke Aulis supaya ia dapat menikah dengan Achilles.

Setelah pengorbanan palsu dilakukan, armada kemudian berangkat menginggalkan Aulis ke Tenedos. Disinilah Achellis membunuh raja Tenes, walaupun ibunya, Thetis, sudah memperingatinya untuk jangan membunuh raja Tenes. Karena siapa yang membunuh raja Tenes akan mati oleh Apollo yang sangat mengasihi Tenes. Bahkan untuk memperingati Achilles, Thetis juga menyuruh seseorang yang selalu bertugas mengingatkan Achilles. Namun petugas ini juga mati di tangan Achilles yang marah karena merasa tidak diperingatkan. Thetis juga memperingati Achilles untuk tidak mendarat sebagai orang pertama di tanah Trojan, karena siapa yang mendarat pertama niscaya akan mati. Untuk yang ini Achilles berhasil menaatinya, dan yang tewas karena mendarat pertama kali adalah Protesilaus.

Ketika pasukan Trojan mulai mendekat, Achilles setuju untuk mengirim teman terdekatnya, Patroclus ke medan perang. Sayangnya, Patroclus harus mati ditangan Hector. Achilles sangat sedih dan kemudian kembali untuk membalas dendam sahabatnya itu. Ia meminta izin ibunya, Thetis untuk membunuh Hector. Dan oleh permohonan ini, Thetis memberinya baju baja baru dari Hephaestus. Ini karena baju bajanya yang lama telah dipakai Patroclus saat bertarung dengan Hector.

Ketika ia mendapat baju bajanya, tanpa membuang waktu Achilles langsung mencari Hector dan membunuhnya, serta melakukan penghinaan dengan ingin menjadikan mayat Hector sebagai makanan anjing. Namun, niatnya itu diurungkan karena raja Priam, raja dari Troy dengan rela merendahkan dirinya sendiri ke Achilles, orang yang membunuh anaknya. Dan seperti yang sudah diramalkan, setelah sesudah kematian Hector, Achillespun tewas. Tapi sebelum tewas, Achilles sempat membunuh beberapa orang lagi.

Kematian Achilles sendiri masih simpang siur. Ada yang mengatakan ia dibunuh oleh Paris dan Apollo di depan gerbang Troy. Ada juga yang percaya kalau Achilles dibunuh sendiri oleh Apollo. Tapi ada juga yang berpendapat kalau Achilles jatuh cinta pada Polyxena, adik putri dari raja Priam, dan ketika akan menikah, Achilles dibunuh secara licik oleh orang utusan Paris dan Deiphobus. Dan adapula yang percaya kalau Achilles dibunuh di kuil Apollo saat ingin bertemu dengan Polyxena.

sumber:http://eksplorasi-dunia.blogspot.com/2012/06/achilles-pahlawan-yunani-yang-melegenda.html

Sumber Artikel Dari Anehdidunia.com

Legenda Mustika Ular Suku Dayak

Berbicara mengenai suku dayak memang tidak ada habisnya untuk dikaji. demikian banyak sumber yang sangat menarik untuk diulas. Seperti sebelumnya kami sempat mengulas tentang panglima burung dari kalimantan, tato suku dayak atau senjata hebatnya yaitu mandau. Sahabat anehdidunia.com bisa search di blog kesayangan kita ini dengan keyword "dayak". Sekarang kita akan membahas hal yang tidak kalah menariknya tentang Mustika Ular Suku Dayak.



Suku Dayak Benuag dan Tunjung meyakini betapa mereka berasal dari leluhur yang dikenal dengan sebutan Tamerikukng â€" karena keturunannya melakukan suatu kesalahan, akhirnya, mereka pun berubah ujud dan tersebar di beberapa tempat di seantero Pulau Borneo. Dan mereka inilah yang sering disebut sebagai “Roh” atau makhluk halus yang memiliki tugas serta fungsi masing-masing dan mukim di seluruh alam, seperti di langit, bumi, air dan sebagainya.

Walau hidup di alam yang tak kasat mata, namun, mereka memiliki kebutuhan yang sebagian besar sama dengan yang dibutuhkan manusia pada umumnya. Dalam kepercayaan lama inilah, sejatinya, hubungan dua alam yang bersanding dan hanya terpisahkan oleh kab ut misteri terjalin dengan erat â€" dan keadaan itu hanya terasakan oleh manusia yang masih alami, atau manusia yang masih memanusiakan manusia dan masih menghargai alam semesta. Dan tak dapat dipungkiri, pengejawantahan dari sikap menghargai itulah yang dapat membuka tabir dimensi misteri tersebut yang oleh sebagian besar masyarakat Dayak diyakini sebagai Dunia Ilmu Magis.

Masyarakat Dayak meyakini, wujud ketaatan dan kesetiaan mereka terhadap “roh” akan mendapatkan berkah dan imbalan dalam berbagai bentuk. Sebaliknya, ketidaktaatan akan membawa mereka ke jurang kehancuran. Oleh karena itu, mereka selalu berusaha untuk bisa berkomunikasi dengan “roh-roh” tersebut lewat cara-cara yang seringkali tidak bisa diterima dengan akal sehat.



Menurut pakar kebudayaan Tanah Borneo, Dalmasius Madrah T, pada dasarnya, ilmu magis dibagi menjadi dua bagian; Yakni; Ilmu Magis Panas; ilmu yang dipakai atau dapat mencelakakan orang yang disukai. Contoh dari ilmu ini adalah rasutn dan bongkaaq eqaau yang sangat mematikan. Sedang yang tidak membahayakan namun digolongkan dalam ilmu magis panas adalah ilmu kebal. Sementara, Ilmu Magis Dingin; ilmu yang berfungsi untuk mengantisipasi, menangkal, dan mengobati ilmu magis yang dipasang atau dikirim oleh pihak lawan. Bahk an, bisa juga digunakan untuk pengobatan penyakit madis.

Seperti biasa, bagi seseorang yang berniat mendapatkan ilmu tersebut di atas, maka, ia harus mencari sumber (guru-pen) yang tepat atau yang sesuai dengan keinginannya. Yang paling menarik adalah, walau berbagai kajian ilmiah telah dilakukan dan banyak bukti nyata di dalam hidup dan kehidupan sehari-hari, tetapi, konsep magis yang memang sulit untuk diterima dengan akal sehat itu tetap saja tak bisa terungkap dengan sejelas-jelasnya.

Selain dari mencari sumber (guru), ada pula yang ingin mendapatkan ilmu magis dengan cara “betapa” (bertapa) sebagaimana yang dilakukan oleh leluhur Bung Dani-i-Dani yang mendapatkan warisan berupa batu berbentuk mirip telur yang terlilit oleh seekor ular. Dan sampai sekarang mereka meyakini, inilah yang disebut sebagai mustika ular.

Bermula, ketika itu, daerah Tumbang Samba terserang oleh wabah penyakit yang mematikan. Tak ada yang mereka bisa lakukan d i desa yang demikian terpencil itu kecuali hanya berharap dan berdoa â€" keadaan inilah yang membuat kakek Bung Dani bertekad untuk betapa (bertapa) di Sungai Kahayan untuk mendapatkan pencerahan guna mengatasi penyakit yang kian hari kian merajalela itu.

Pada saatnya, sang kakek pun berendam di Sungai Kahayan. Waktu terus berlalu hingga suatu hari, ia ia ditemui oleh penguasa Sungai Kahayan yang mengaku bernama Datu Amin Kelaru. Dan dari pertemuan dua makhluk yang berbeda alam itulah, ia pun mendapatkan sebuah batu mirip telur yang dililit oleh seekor ular. Singkat kata, dengan daya magis batu tersebut, akhirnya, sang kakek pun berhasil menyembuhkan masyarakat di desanya yang terkena penyakit aneh tersebut.

Meski mustika ular itu didapat dengan jalan betapa (bertapa), tetapi, benda yang oleh suku dayak diyakini memiliki kekuatan atau kesaktian itu pada waktu-waktu ter tentu biasa meminta imbalan berupa makanan dan minuman sebagaimana yang kita kenal dengan sebutan sesaji.

Sudah barang tentu, silang pendapat akan hal tersebut di atas selalu terjadi di tengah-tengah masyarakat. Namun, masyarakat suku Dayak melakukan hal tersebut sebagai (meminjam istilah Khanjeng Joko) “tali asih” antara sesama makhluk ciptaan Tuhan. Sayangnya, dalam kehidupan sehari-hari, hal tersebut kadang berkebalikan. Seharusnya manusia yang diciptakan lebih sempurna ketimbang makhluk lain diptaanNya itu memberi “sesaji” sebagai sedekah bagi mahkluk yang lebi rendah â€" bukan sebaliknya.

Setelah sang kakek meninggalkan dunia nan fana ini, akhirnya, mustika ular tersebut diwariskan kepada cucunya, Bung Dani-i-Dani. Pemuda inilah yang akhirnya menjadi penerus sang kakek dalam memberikan pelayanan pengobatan baik medis maupun non medis di daerahnya. Tumbang Samba.

Sampai sekarang, tiap malam Jumat, Bung Dani-i-Dani selalu memberika n sesaji berupa bunga 3 atau 7 macam â€" dan salah satu di antaranya harus bunga melati, serta kopi manis dan kopi pahit masing-masing segelas, sementara, mustika ular itu diletakan di sebuah piring yang sebelumnya telah ditaburi dengan segenggam beras.

Kini, ditangan Dani-i-Dani, mustika ular yang berdaya gaib tinggi itu berhasil dioptimalkan untuk berbagai hal. Selain pengobatan, mustika ular ini berhasil juga mendongkrak nilai guna dalam hal ekonomi. Di antaranya, penglarisan dagang, memperlancar usaha dan keperluan pagar gaib yang dikenal dengan sebutan kamaat (penjaga gaib yang setia). Yang terakhir ini memang dapat diperoleh dengan cara nemaai (diperoleh dengan pembayaran dan tata cara tertentu). Singkat kata, untuk membeli kamaat bukanlah suatu pekerjaan yang mudah â€" karena diperlukan kesungguhan, selain harus berhasil meyakinkan si pemilik kamaat agar mau berbagi. Pada dasarnya, kamaat bukan barang dagangan, hanya saja, bagi yang serius ingin mendapatkan nya harus mau berbagi.

Demikian sekelumit legenda, tetapi nyata, dan sampai tulisan ini diturunkan masih bisa ditemui di Desa Tumbang Samba.

referensi:http://www.indospiritual.com/http://www.gelut.com/
http://www.anehdidunia.com