Thomas Webber: Masuk Islam Ketika Islam Disebut Sebagai Agama Teroris



Serangan 11 September 2001 menjadi titik awal perang AS melawan teror di bumi-bumi Muslim. Invasi AS ke Irak dan Afghanistan membuat dunia percaya bahwa Islam dan Muslim identik dengan kekerasan dan terorisme.

Tapi kampanye-kampanye negatif tentang Islam dan Muslim yang demikian gencar justeru membuat banyak non-Muslim di Barat yang tertarik mempelajari Islam dan tak sedikit diantara mereka yang akhirnya memilih menjadi seorang Muslim. Mereka berani mengucap dua kalim at syahadat karena yakin Islam sebenarnya adalah agama yang paling sempurna dan mengajarkan perdamaian.

Thomas Webber seorang pemuda Inggris, adalah salah satu orang yang tidak percaya begitu saja dengan kampanye hitam terhadap Islam yang dilakukan dunia Barat. Terlahir dari keluarga Kristen, Webber dan saudara-saudara kandungnya; satu orang kakak lelaki dan dua adik perempuan kembar, diwajibkan ikut sekolah Minggu oleh ibunya.

Sejak kecil, Webber memang sudah dikenal cerdas. Apa yang diajarkan di sekolah Minggu membuat Webber kecil bertanya-tanya mengapa Tuhan yang ia kenal penuh cinta kasih dan memiliki kekuatan seperti keyakinan dalam Kristen, harus membunuh anaknya untuk menanggung beban dosa-dosa manusia. Webber berpikir ajaran itu tidak masuk akal.

Waktu terus berjalan, Webber pun beranjak remaja. Pada masa ini, Webber tidak lagi terlalu memikirkan konsep ketuhanan. Bagi Webber, hari-hari besar keagamaan adalah hari libur d imana ia bisa santai atau saatnya bagi-bagi hadiah. Dia memandang orang-orang yang percaya pada agama adalah orang-orang yang cara berpikirnya lemah atau bodoh, karena mereka tidak bisa membuktikan ajaran agama mereka seperti pembuktian dalam ilmu pengetahuan yang ia pelajari di sekolah.

Di ulangtahunnya yang ke-13, terjadi perubahan dalam diri Webber. Ia merasa mulai peduli lagi pada agama. Tapi bukan dalam artian ia kembali menjadi penganut Kristen yang religius. Tapi hanya meyakini bahwa ada satu kekuatan atas segala sesuatu yang ia tidak mampu melakukannya.

Webber pun mulai mempelajari bermacam-macam agama, kecuali Islam. Agama-agama yang ia pelajari membuatnya berpikir bahwa semua agama itu bertujuan untuk membuat orang menjadi lebi bermoral. Webber merasa masih ada sesuatu yang kurang dari beragam agama yang sudah ia pelajari. Pencarian atas kebutuhan jiwanya yang belum terpenuhi itupun terus ia lanjutkan.

Menemukan Kebenaran Islam

Tahun 2001, terjadilah serangan 11 September ke gedung kembar World Trade Center di New York yang membuatnya hampir tak percaya menyaksikan tragedi itu. Namun ramainya pemberitaan tentang peristiwa kelabu itu sama sekali tidak terlalu mempengaruhi kehidupannya. Perhatiannya mulai terusik ketika laporan-laporan tentang serangan itu mulai menyebut-sebut tentang teroris Islam, tindakan balasan terhadap Muslim dan dilanjutkan dengan laporan-laporan tentang serangan ke Afghanistan lalu ke Irak. Webber mulai mempertanyakan semua itu dan tergerak untuk mencari kebenaran tentang Islam.

€œSaya tidak begitu saja percaya bahwa orang-orang Islam bisa menjadi teroris yang hanya bisa membunuh dan menimbulkan kebencian. Bagi saya itu sangat aneh, sehingga saya mengabaikannya. Tapi mungkin ini adalah saat ketika saya untuk pertama kalinya benar-benar merasa ingin untuk belajar agama, kata Webber.

Di tahun keenam masa kuliahnya, Webber berkenalan dengan seorang Muslim. Dari sahabat Muslimnya itulah Webber menemukan menemukan bukti yang jelas dan nyata bahwa orang-orang Muslim adalah seperti penganut-penganut agama lain pada umumnya, dan bukan orang-orang yang brengsek dan hanya bisa melakukan kekerasan.

Sejak itu, Webber mulai serius belajar Islam. Ia diam-diam menggali berbagai informasi tentang Islam dari internet. Ia melakukannya saat sedang seorang diri, karena Webber mengaku belum siap jika ada orang yang melihatnya atau berpikir Webber sedangn mempertimbangkan masuk agama tertentu, apalagi memilih agama Islam. Tapi Webber meyakini apa yang ia baca tentang Islam, meski ia sedikit mengalami kebingungan yang membuat perjalanannya menuju Islam agak tersendat.

Pada suatu saat di Musim Panas, Webber merasa bahwa ia sudah hampir mantap untuk memilih Islam, meski masih banyak pertanyaan-pertanyaan yang berseliweran di kepalanya dan ia tidak punya tempat untuk bertanya. Untunglah sahabat Muslimnya menelponnya dan butuh berjam-jam buat Webber untuk mengatakan bahwa ia bantuan sahabatnya itu.

Akhirnya, Webber berani mengatakan bahwa ia masih bingung tentang agama. Saat itu Webber masih belum mau mengatakan bahwa ia ingin masuk Islam sampai ia benar-benar yakin bahwa ia harus menjadi seorang Muslim.

Kesempatan itu akhirnya datang juga. Di ulangtahunnya yang ke-20 Webber memutuskan untuk mengucapkan dua kalimat syahadat, beberapa hari sebelum ia berangkat ke London untuk menghadiri Konferensi ”Global Peace and Unity”.

”Malamnya, saya berusaha tidur tapi yang terdengar di telinga saya hanya suara adzan. Itulah saat-saat terindah yang pernah saya rasakan,” tukas Webber menceritakan betapa gelisahnya ia menunggu detik-detik bersejarah dalam hidupnya, mengucapkan dua kalimat syahadat.

Setelah menjadi seorang Muslim, Webber masih harus berjuang keras agar ia bisa diterima oleh keluarganya. Perjuangannya tak sia-sia, karena keluarga sekar ang sudah menerimanya menjadi seorang Muslim. Tapi perjalanan Webber sebagai mualaf masih panjang.

”Sekarang saya masih belajar hadist dan alQuran dan hal-hal lainnya tentang Islam,” tandas Webber.  [yy/eramuslim.com]

Di Usia 15 Tahun, Noora Al-Samman Putuskan Masuk Islam



Saya memeluk agama Islam pada usia 15 tahun. Ibu saya berasal dari Suriah, dari keluarga Halab, lahir di Detroit, dan ayah saya adalah warga Amerika keturunan Polandia/Slowakia. Saya sendiri lahir di Detroit Michigan. Nenek saya adalah Maronite, sementara kedua orang tua saya penganut Katolik.

Saya bercita-cita untuk menjadi biksu ketika berusia 15 tahun.
Saya berada dalam kelas Sejarah Dunia ketika di sekolah tinggi. Ketika itu kami belajar semua agama besar dunia. Saya tertarik terhadap Islam, ada seorang pria muslim dari Mesir di dalam kelas kami yang memperbaiki kesalahan guru kami dan saya berpikir €˜wow!€™ dia mestilah mempunyai keyakinan yang kuat sehingga bisa memperbaiki kesalahan guru kami tersebut.

Satu hari saya bertanya kepadanya apakah perbedaan antara Katolik dan Islam. Dia berkata sebenarnya tidak banyak perbedaan. Saya tidak puas hati dengan jawabannya. Maka saya meminta kepada ibunya jika saya bisa mendapatkan al-Quran dalam bahasa Inggris. Dia memberikan sebuah Quran kepada saya, saya mulai membacanya dan tidak dapat melepaskannya. Saya terus saja membaca dan saya tahu bahwa kitab ini adalah dari Allah.

Anda akan dapat merasakan bahwa tidak mungkin manusia bisa menuliskannya. Saya sebagai seorang yang begitu mengapresiasi syair, saya sungguh mencintainya karena saya mendapati al-Quran begitu menakjubkan. Dalam hati saya, saya berujar, saya ingin menjadi muslimah.

Reaksi Keluarga

Ketika saya mulai shalat dan berpuasa, dan sebagainya, kedua orang tua, terutama ibu saya, mulai mempersulit saya. Saya yang masih muda, membayangkan bahwa mereka akan mencintai Islam seperti saya, tetapi mereka sungguh berbeda. Mereka akan merampas kerudung saya, sajadah saya, Quran saya, dan segala yang berkaitan dengan Islam. Ayah saya mengeledah kamar saya setiap hari, dan saya menyembunyikan kerudung di dalam lemari. Ibu saya berusaha keras melarang saya berkawan dengan muslim, dan dia akan menelepon orang tua teman-teman saya dan memberitahu mereka untuk tidak lagi memberitahu tentang Islam kepada saya, dan bahwa mereka hanya membingungkan saya.

Ayah ibu memaksa saya ke gereja, dan saya akan duduk memikirkan betapa orang-orang ini amat sesat. Satu hari ibu menyusun pertemuan antara saya dengan seorang pendeta. Saya mengatakan betapa cintanya saya dengan Islam dan mengapa Anda pikir sesuatu yang begitu indah tidak baik? Dia memberitahu begitu begini dan mengambil beberapa petikan dari kitab Injil. Dia malah memberitahu saya bahwa mimpi saya adalah dari setan, saya haruslah mencari perlindungan dari Tuhan. (Saya bermimpi telah pergi ke sebuah negara muslim dan memakai jilbab di sebuah padang pasir). Orang ini kelihatan seolah-olah setan berada dalam dirinya saat dia mengatakannya! Saya tidak akan pernah dapat melupakan wajahnya. Semoga Allah memaafkan saya.

Ibu saya sengaja memasak babi untuk saya dan berbohong dengan mengatakan bahwa itu daging, saya memeriksa kertas bungkusan dan tertera disitu bahwa itu adalah daging babi. Ayah saya memberitahu bahwa di rumah tersebut, yang tinggal harus beragama Katolik atau kalau tidak harus meninggalkan rumah. Saya terpaksa menyembunyikan al-Quran di ruang dalam AC agar tidak dirampas. Karena jika ditemukan oleh mereka, mereka akan membuangnya dalam tong sampah.

Mereka malah mengambil kunci pintu saya sehingga sulit untuk saya menunaikan shlat. Mereka akan mengolok-olokkan saya. Saya belajar sendiri shalat dalam bahasa Arab melalui sebuah buku panduan shalat. Saya tidak dapat menceritakan betapa luka hati saya menyaksikan tingkah laku ibu bapak saya terhadap saya dan Islam.

Saya mulai menceritakan Islam kepada adik perempuan saya. Kedua orang tua saya memberikan peringatan seandainya saya terus bersikap demikian, mereka akan mengusir saya. Saya berhenti, tetapi saya sempat memberitahu banyak hal kepada adik saya.Kini dia mula mempersoalkan mengapa Katolik tidak terus saja berdoa kepada Tuhan, mengapa ada pengakuan dan banyak lagi. Saya berdoa meminta bantuan dari Tuhan, ketika usia saya semakin dewasa saya akan dapat mengamalkan Islam sepenuhnya.

Saya berhenti shalat untuk sementara waktu, semoga Allah mengampuni saya. Saya tidak punya seseorang yang memberi dukungan dan bimbingan kecuali orang tua teman-teman saya yang meminta saya patuh saja kepada ibu bapa saya. Rekan-rekan muslim saya tidak dapat memahami apa yang saya lalui, mereka juga tidak dewasa atau berpengetahuan yang mencukupi untuk mengajar saya dan menjawab banyak pertanyaan saya.

Satu hari di Universitas

Satu hari (usia saya 20 tahun) saya berada di universitas, saya menelepon wanita yang memberikan saya Quran karena saya dengar terdapat sebuah masjid yang baru dibangun. Sebelum itu masjid yang terdekat memakan waktu lebih kurang 45 menit â€" 1 jam. Dia mengatakan bahwa mereka sedang makan malam. Saya pergi, dan ketika saya mendengar suara azan, saya merasa sungguh gembira dan menangis.

Saya mengucapkan syahadah di hadapan banyak orang pada bulan Ramadhan, dan saya bertekad untuk komitmen dan tidak akan peduli lagi dengan orang tua atau orang lain. Saya dapat mengaitkan diri saya dengan Nabi Yunus saat berada dalam perut ikan paus. Saya membulatkan tekad. Saya meninggalkan perbuatan buruk, dan juga teman-teman yang tidak baik. Saya berkawan dengan Muslim.

Saya mulai memakai kerudung dan ibu ayah saya melarang perbuatan saya. Sementara saya terkadang mengikuti ucapan mereka dan terkadang tidak. Ada kalanya saya meletakkan kerudung dalam mobil saya maka mereka tidak dapat melihat saya karena ibu akan memberikan justifikasi bahwa Islam menyuruh anak patuh kepada orang tua. Dia melarang saya mengenakan hijab dan saya haruslah mengenakan pakaian yang bergaya. Dia memberitahu saya bahwa saya kelihatan seperti nenek tua dengan memakai hijab dan pakaian Islami. Satu ketika pernah ibu saya tidak ingin saya dilihati oleh teman-teman adik saya, dia dan adik saya telah menarik kerudung dari kepala saya. Saya terpaksa mempertahankan diri sehingga memukul ibu saya, semoga Allah mengampuni saya.

Ibu mengatakan saya angkuh karena memakai jilbab dan memalukan adik saya dan seluruh anggota keluarga. Dia tidak ingin kelihatan bersama saya di tempat umum di kota kami tinggal. Nenek saya juga turut me nyulitkan saya. Ketika saya shalat, dia akan menjerit kepada saya dan berkata, “Tidakkah engkau mendengar kata-kataku.”

Malah dia pernah mengatakan bahwa dia tidak percaya Nabi Isa dilahirkan demikian. Mereka akan mengolok-olok dan mempermainkan saya ketika saya membaca Quran. Kakek saya berhenti dari bercakap dengan saya, ibu dan juga nenek turut mengatakan bahwa saya akan masuk neraka. Malah ibu saya pernah berusaha untuk membawa saya berjumpa psikolog ketika saya masih muda. Dia menjelaskan kepada psikolog tersebut bahwa saya telah memeluk Islam.Ahli psikologi itu memberikan saya obat psychotik. Saya melemparkannya ke dalam tong sampah. Saya merasa sulit untuk belajar. Saya ingin belajar tentang Islam dan menjadi cendikiawan. Kemudian saya mula berusaha mencari jodoh.

Alhamdulillah, saya bertemu dengan seorang muslim dari Damaskus, Suriah. Kami menikah dan saya pindah dari Atlanta ke Houston. Setahun kemudian kami dikaruniakan anak bernama Yusuf. Alhamdulillah, saya sungguh gembira dan saya berharap, insya Allah saya ingin pindah ke Madinah.

Baru-baru ini, saya bertemu dengan seorang muslimah dari Jordan. Dia juga baru memeluk Islam dan melalui pelbagai kepahitan dan penderitaan seperti saya. Saya mendengar berbagai cerita tentang orang yang baru memeluk agama Islam seperti pria Yahudi dari New York yang pindah ke Jerusalem dan memeluk agama Islam. Isteri Yahudi itu asal Marokonya serta anak-anak mereka juga memeluk Islam. Mereka pindah dekat dengan penduduk Islam dan belajar bahasa Arab.

Segala puji bagi Allah. Saya bersyukur karena Allah telah menunjukkan jalan kepada saya. []

Ingrid Mattson, wanita mualaf pemimpin ormas Islam di Amerika



Islamic Society of North America (ISNA) tepat sekali memilih Ingrid Mattson sebagai orang nomor satu. Banyak orang sepakat bahwa sosok Ingrid sangat tepat untuk memimpin Komunitas Islam Amerika Utara, yang merupakan salah satu pemimpin agama yang kini cukup berpengaruh di Amerika Serikat.

Siapa yang mengira bahwa mualaf ini akan memimpin sebuah organisasi besar dan berpengaruh di Amerika. Siapa sebenarnya Ingrid dan bagaimana kisah hidupnya sehingga bisa menjadi musli mah kesohor?
Ingrid Mattson dilahirkan Kitchener, Waterloo, Ontario, Kanada pada 1964. Mattson lahir dari keluarga penganut Katolik Roma yang sangat taat. Waktu kecil dia tumbuh sebagai anak yang rajin melakukan misa harian.

“Saya punya kesalehan kanak-kanak yang polos dan sederhana,” ujar Ingrid dalam buku ‘Seeking Truth Finding Islam (Kisah Empat Mualaf yang Menjadi Duta Islam di Barat) halaman 44, seperti dikutip merdeka.com, Minggu (7/7).

Meski tumbuh dan besar dalam lingkungan Kristen di Kitchener, Ontario, Kanada, di usianya yang ke 16 tahun, Ingrid justru memutuskan berhenti pergi ke gereja. Saat itu Ingrid sempat menjadi atheis alias tidak mempercayai Tuhan. Ingrid memilih fokus untuk menimba ilmu di Universitas Waterloo dan memilih jurusan Seni dan filsafat. Dan dari situ lah dirinya mengenal cahaya Islam.

Di Departemen Seni Rupa Universitas Waterloo, dia berkelana ke berbagai museum sejarah dan seni. Se cara kebetulan, di Museum Louvre yang berada di tengah Kota Paris, dia berkenalan dengan beberapa Muslimah dari Senegal.

Mattson terpesona dengan ketulusan dan martabat yang dia lihat dari diri teman-teman Muslimnya itu. Bahkan di saat para muslim tersebut menghadapi prasangka buruk di sekelilingnya. Hal itulah yang kemudian membawanya untuk mempelajari Alquran. “Mereka punya kebijaksanaan yang seimbang,” ujarnya.

Sejak saat itu, Mattson mulai menggali tentang ketuhanan dan kepribadian Muhammad melalui Alquran terjemahan. Yang membuatnya semakin tertarik dengan Islam adalah semua umat Muhammad tidak hanya mengikutinya dalam hal beribadah, tetapi juga di dalam semua aspek kehidupan, mulai dari kebersihan diri sampai pada cara bersikap terhadap anak-anak dan tetangga.

Di tahun 1986, dia lalu memutuskan bersyahadat dan menjadi muslimah. Dia pun menukar pakaiannya dengan busana muslimah lengkap dengan jilbab. Saat itu usianya 23 tahun.
< br />Saat pertama kali salat, Mattson sangat terkejut oleh perasaan kedekatan dengan Tuhan yang telah hilang sejak remaja dari dalam dirinya. “Tuhan tidak lagi ada di gereja, tetapi ada di mana-mana. Dia ada di alam, seni dan wajah-wajah muslimah yang ikhlas,” ujar Mattson.

Pada tahun 1987, Mattson lalu memutuskan pergi ke Pakistan untuk menjadi relawan kemanusiaan. Selama berada di Pakistan, Mattson akhirnya menemukan seorang pemuda yang juga menjadi relawan, Aamer Atek, seorang insinyur asal Mesir. Merasa sehati, keduanya memutuskan menikah.

Mattson mendapatkan gelar Ph.D. di studi Islam dari Universitas Chicago pada tahun 1999. Dia terus menjadi sangat aktif dalam mendidik Muslim Kanada untuk menjadi partisipan aktif dalam masyarakat Kanada pada umumnya.

Pada tahun 2001 Mattson terpilih menjadi Wakil Presiden ISNA. Selama menjadi wakil, Mattson dinyatakan memiliki reputasi dan nilai yang sempurna. Hal itulah yang kemudian pada tahun 20 06 menghantarkannya terpilih sebagai presiden wanita pertama dalam organisasi itu.

Nama Ingrid Mattson sempat menjadi topik pembicaraan hangat di berbagai media Barat. Hal ini lantaran namanya masuk dalam daftar salah satu tokoh yang diundang pada inagurasi Barack Obama, setelah kandidat Presiden Amerika Serikat (AS) dari Partai Demokrat itu menang dalam pemilu.

Saat itu, Mattson masih menjabat sebagai presiden Komunitas Islam Amerika Utara (ISNA) merupakan salah satu pemimpin agama yang akan berbicara pada acara doa yang digelar di Cathedral Nasional di Washington DC, sehari setelah pelantikan Obama sebagai presiden AS ke-44.

Undangan yang ditujukan kepada Mattson ini menuai kontroversi publik Amerika. Sebab, yang bersangkutan dicurigai jaksa federal terkait dengan jaringan teroris. Seperti diketahui, pada Juli 2007, jaksa federal di Dallas, mengajukan tuntutan kepada ISNA karena diduga memiliki jaringan dengan Hamas organisasi Islam di Pale stina yang dikelompokkan Pemerintah AS sebagai organisasi teroris.

Namun, baik Mattson maupun organisasinya tidak pernah dihukum. Jaksa hanya menyatakan memiliki bukti-bukti dan kesaksian yang dapat menghubungkan kelompok tersebut ke Hamas dan jaringan radikal lainnya.

Kisah Unik Sipir Guantanamo yang Menemukan Islam

Teluk Guantanamo selama ini dikenal sebagai penjara khusus bagi pelaku kejahatan teroris maupun yang hanya 'tertuduh' milik militer AS. Namun, siapa sangka di balik kawat berduri dan sel-sel yang dingin, Terry Holdbrooks, salah seorang penjaga justru menemukan Islam.

Kisah ini menjadi menarik bukan semata sebagai cerita mualaf (orang yang memeluk Islam) biasa. Melainkan sebagai perubah persepsi dan membuka mata, bahwa tak selamanya tertuduh yang dibuang ke Guantanamo adalah kaum radikal dan teroris. Tak heran, makin banyak suara kritis dari berbagai negara terhadap tindakan represif militer AS kepada orang-orang yang mereka sangka teroris.



Sebagai seorang penjaga penjara, Terry Holdbrooks punya kebiasaan unik setiap malam. Saat teman-temannya yang bebas tugas pergi ke bar setempat dan bermabuk-mabukan, ia justru berbincang dengan narapidana tentang Islam.

"Kami tak tahu apa pun tentang Islam. Kami hanya diperlihatkan video peristiwa 11 September (bom gedung WTC, New York, AS). Kita diberitahu bahwa para tahanan ini merupakan yang paling buruk dari yang terburuk. Mereka adalah sopir (Osama) Bin Laden, koki Bin Laden, dan orang-orang yang akan membunuh Anda saat pertama kali bertemu,€ ujar Terry berkisah tentan g perjalanannya menuju hidayah kepada banyak media, baik Guardian, NewsWeek Magz, France TV, dan lain sebagainya.

Namun, persepsi sempit tentang Islam itu ternyata tak semuanya benar. Terry mendapati beberapa tahanan yang justru amat baik. Mereka sangat ramah dan murah senyum.

Semakin lama, Terry yang juga dikenal sebagai penjaga baik hati itu pun berhubungan baik dengan para napi. Setiap malam dia duduk-duduk dengan para napi. Berawal obrolan biasa, kemudian mengarah pada agama. Inilah kali pertama Terry mengenal Islam.

€œAku mulai ngobrol dengan para tahanan tentang politik, etika, moral, juga tentang kehidupan dan budaya mereka. Ini benar-benar mengejutkan bagiku karena sebelumnya aku sama sekali tak mengenal Islam,€ ujarnya.

Terdapat seorang napi yang sangat dekat dengannya, yakni seorang warga Maroko bernama Ahmed Errachidi. Di penjara Ahmed dijuluki dengan €œjenderal€. Setiap malam, Terry mengobrol dengan €œjende ral€ itu. Tak ada teman-temannya yang mengetahui karena saat itu mereka tengah bermabuk ria. Semakin hari, ia pun semakin jatuh cinta pada agama rahmatan lil alamin ini. €œAku ingin belajar sebanyak yang aku bisa,€ ujarnya berbinar.

Setelah belajar mengenai Islam dan obrolan panjang tiap malam, Terry memutuskan untuk memeluk Islam. Ia meminta Ahmed menulis syahadat di sebuah kertas, transliterasi dan terjemahnya dalam bahasa Inggris. Ia pun dengan mantap membacanya dengan lantang di lantai Guantanamo Camp Delta. Di sanalah, ia kemudian menjadi Muslim.

Ijin Pipis Untuk Shalat
Terry yang sudah menjadi seorang Muslim itu pun selalu berusaha tak luput shalat. Acap kali waktu shalat tiba, Terry berpura-pura izin ke kamar mandi. Namun, sebenarnya ia menunaikan ibadah shalat.



€œTidak mudah menunaikan shalat lima kali sehari tanpa rekan-rekanku tahu. Aku pun mengatakan kepada mereka bahwa aku butuh sering ke kamar mandi,€ katanya sambil tertawa mengingat masa lalu.

Ya, peristiwa di tahun 2004 itu menjadi kenangan tersendiri bagi Terry yang kini mengubah namanya menjadi  Mustafa Abdullah dan meninggalkan Guantanamo karena tak tahan melihat perlakuan di sana.

Siapa sangka, tumbuh dalam lingkungan keluarga yang tak karuan, kedua orang tu anya pemabuk berat yang kemudian bercerai sejak ia kecil, lalu di  usia 19 tahun, ia hidup dikelilingi alkohol, seks bebas, musik hard rock, tato, dan lain sebagainya, kini berubah 180 derajat setelah menemukan keyakinan yang diimaninya.